Gubernur Sumatra Barat (Sumbar) Mahyeldi meninjau kondisi Jalan Nasional penghubung Padang dengan Solok Selatan di kawasan Aie Dingin, Alahan Panjang, Kabupaten Solok yang rusak parah, baru-baru ini.

“Kondisi jalan ini rusak parah diduga akibat aktivitas penambangan galian C. Kita langsung cek ke lapangan. Ada satu tambang yang yang kita temukan tidak berizin, langsung kita hentikan operasionalnya,” katanya.

Dia menjelaskan, pihaknya juga akan mengevaluasi perizinan sejumlah perusahaan tambang lain yang diduga menjadi biang masalah kerusakan ruas jalan sepanjang kurang lebih 20 km itu.

Masyarakat sudah resah dengan kondisi jalan ini. Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) juga mengeluhkan kondisi jalan ini.

“Kita juga berulang kali lewat di jalan ini, dan pada hari ini melihat langsung fakta-fakta kerusakan dan penyebab kerusakannya. Maka, ini tidak bisa lagi kita biarkan,” ungkapnya.

Dalam kesempatan itu, Gubernur beserta jajaran Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait dengan melakukan peninjauan di lima titik kerusakan terparah bersama dengan Kepala Balai Pelaksana Jalan Nasional (BPJN) Thabrani.

Gubernur dan jajarannya menemukan fakta-fakta kerusakan jalan serta kerusakan bangunan rumah warga, yang disebabkan oleh aktivitas tambang di sekitar kawasan tersebut.

“Sebelumnya, kami sudah perintahkan jajaran di provinsi, mulai dari Dinas ESDM, Dinas Lingkungan Hidup (DLH), dan Dinas BMCKTR, untuk melihat dari dekat dan mendeteksi akar persoalan kerusakan menahun jalan nasional ini,” tuturnya.

Menurut Mahyeldi, sebagian dari tugas di dinas tersebut sudah selesai, meski ada beberapa persoalan yang masih butuh penjelasan dan jawaban.

Dia menambahkan, berdasarkan peninjauan pada lima titik dengan kondisi kerusakan terparah, terlihat dengan sangat jelas bahwa aktivitas tambang di sisi Timur jalan telah menyebabkan luncuran air galian tambang yang tidak terkendali, sehingga secara perlahan menyebabkan longsoran dan jalan terban di sisi Barat.

“Oleh karena itu, aliran air galian itu harus di stop. Entah itu dengan membuat saluran yang benar, atau tambang itu sendiri yang kita evaluasi,” katanya.

Gubernur menekankan, tindakan tegas harus segera dilakukan dalam menghadapi persoalan ini, karena jika tidak, ruas jalan nasional itu diprediksi tidak akan bisa diselamatkan.

Kondisi itu, diungkapkannya tentu akan berdampak negatif pada ratusan ribu warga yang sangat membutuhkan ruas jalan tersebut sebagai satu-satunya akses menuju Solok Selatan.

“Kita di provinsi berharap, setelah teratasi segala persoalannya, maka Balai Jalan bisa segera melakukan perbaikan terhadap kualitas jalan ini. Sebab ini sangat penting bagi masyarakat,” tuturnya.

Sementara itu, Kepala BPJN Sumbar Thabrani menyebutkan, ruas jalan nasional di Aie Dingin sepanjang 20 km memang kawasan sangat rawan longsor, karena di sekitar ruas jalan tersebut terdapat aktivitas tambang yang tidak tertata dengan benar.

Jadi, lanjutnya, menyebabkan terjadinya tumpukan saluran air atau aliran air yang menyeberangi badan jalan dan kemudian menyebabkan terjadinya longsor atau jalan terban di sisi Barat.

“Curah hujan tinggi pada 7 Maret 2024 menyebabkan 10 titik longsor di ruas jalan ini. Kita sudah bersihkan enam titik, sedangkan empat titik lagi butuh penanganan khusus dan segera. Kalau tidak, maka jalan ini akan cepat putus,” jelasnya.

Setelah dilakukan peninjauan langsung oleh gubernur beserta jajaran, kata Thabrani, maka BPJN berharap ada solusi yang tepat untuk mengatasi kerusakan jalan menahun yang disebabkan aktivitas tambang tersebut.

Sebab, perbaikan kualitas jalan akan sia-sia jika penataan tambang di kawasan itu tidak dilakukan dengan benar.

“Untuk sementara, jalan nasional di sini tetap kita pelihara, tapi dengan sistem fungsional. Kita tutup lobangnya dengan sirtu atau dengan teknis lainnya, tetapi belum bisa ditingkatkan kualitas penanganannya, selama penataan tambangnya belum baik dan benar,” ujar Thabrani. GBM

Facebook Comments Box

Bagikan: