Balai Teknik Perkeretaapian Kelas II Padang, Provinsi Sumatra Barat (Sumbar) mengungkapkan sejumlah masalah moda transportasi kereta api yang harus diperhatikan oleh pemangku kepentingan dan segera ditindaklanjuti.

“Permasalahan pertama, terkait keselamatan di perlintasan sebidang,” kata Kepala Balai Teknik Perkeretaapian Kelas II Padang, Provinsi Sumbar, Supandi dalam Press Tour bertema Pembangunan Perkeretaapian di Sumbar di Padang, baru-baru ini.

Dari data yang dimiliki Balai Teknik Perkeretaapian yang telah direkonsiliasi dengan pemangku kepentingan terkait, tercatat 388 perlintasan sebidang di Provinsi Sumbar yang mayoritas merupakan perlintasan liar atau tidak terdaftar.
Untuk mengantisipasi kecelakaan, Balai Teknik Perkeretaapian secara bertahap sejak tahun 2022 berhasil menutup 261 dari 388 perlintasan sebidang.

Selanjutnya, permasalahan kereta api di Sumbar, yaitu terkait dengan integrasi moda transportasi untuk mendukung minat warga dalam menggunakan jasa transportasi tersebut.

Menurut Supandi, stasiun-stasiun yang dibangun PT Kereta Api Indonesia (KAI) harus didukung layanan moda transportasi lain.

Hal itu disebabkan ketiadaan integrasi transportasi umum membuat masyarakat kesulitan mencapai tujuannya yang berimbas pada enggannya masyarakat naik kereta api.
Kemudian, masalah perkeretaapian di Ranah Minang ialah maraknya pencurian aset seperti bantalan rel hingga masyarakat yang tanpa izin mendirikan bangunan liar di sekitar jalur kereta api.
Tidak hanya itu, persoalan penghidupan kembali jalur-jalur yang selama ini tidak difungsikan atau reaktivasi juga menjadi sorotan Balai Teknik Perkeretaapian meski pihaknya menyadari upaya reaktivasi bukan perkara mudah.

“Program reaktivasi ini membutuhkan anggaran yang besar. Tapi, secara bertahap kita dari balai sudah melakukan langkah perencanaan supaya kereta api yang nonaktif ini bisa beroperasi lagi,” jelas Supandi.

Balai Teknik Perkeretaapian bersama pemerintah daerah juga berencana kembali mengoperasikan lokomotif uap Mak Itam yang merupakan peninggalan kolonial Belanda dari Kota Sawahlunto ke Kota Padang Panjang. GBM

Facebook Comments Box

Bagikan: